Sejarah Perkembangan Revolusi Industri 1.0 hingga 4.0

Fenomena revolusi industri 4.0, serta sejarah tentang revolusi industri sepanjang peradaban manusia.

Bicara soal revolusi industri, sebagian besar dari kita pasti sudah pernah belajar tentang revolusi industri di Inggris, kan? Biasanya di pelajaran Sejarah sering membahas hal ini. Nah, mungkin beberapa dari kita bingung, kenapa kok judulnya revolusi industri 4.0.

Istilah ini sedang hits. Belakangan ini banyak yang membicarakan tentang revolusi industri 4.0. Baik tokoh nasional maupun tokoh internasional, berkali-kali ngomong soal “Bersiaplah menyongsong industri 4.0” atau “Kita tidak boleh tergilas oleh industri 4.0” atau “Kita harus bisa memanfaatkan fenomena Industri 4.0.”

Definisi Revolusi Industri

Definisi dari revolusi industri itu sendiri. Secara simpel, revolusi industri adalah perubahan besar dan radikal terhadap cara manusia memproduksi barang. Perubahan besar ini tercatat sudah terjadi tiga kali, dan saat ini kita sedang mengalami revolusi industri yang keempat. Setiap perubahan besar ini selalu diikuti oleh perubahan besar dalam bidang ekonomi, politik, bahkan militer dan budaya. Sudah pasti ada jutaan pekerjaan lama menghilang, dan jutaan pekerjaan baru yang muncul.

Lebih detilnya kita harus lihat di setiap revolusi industri, tapi beberapa hal yang semula begitu sulit, begitu lama, begitu mahal dalam proses produksi mendadak jadi mudah, cepat, dan murah. Jadi, Ekonomi membicarakan macam-macam upaya manusia menghadapi kelangkaan.

Munculnya pabrik sebagai tanda revolusi Industri
Munculnya pabrik sebagai tanda revolusi Industri
Sumber: Unsplash (Ant Rozetsky)

Revolusi industri malah terkadang MENGHILANGKAN beberapa kelangkaan tersebut, sehingga waktu, tenaga, dan uang yang semula digunakan untuk mengatasi kelangkaan-kelangkaan tersebut, jadi bisa digunakan untuk mengatasi kelangkaan yang lain.

Hilangnya atau berkurangnya sebuah kelangkaan otomatis merubah banyak aspek dalam kehidupan Manusia. Mari kita Simak satu persatu.

Revolusi Industri 1.0

Revolusi industri pertama adalah dengan ditemukannya lalu digunakannya mesin uap dalam proses produksi barang. Penemuan ini sangat penting sekali, karena sebelum adanya mesin uap, kita hanya bisa mengandalkan tenaga otot, tenaga air, dan tenaga angin untuk menggerakkan apapun.

Sedangkan, tenaga otot amat terbatas. Misalnya, manusia, kuda, sapi dan tenaga-tenaga otot lainnya tidak mungkin bisa mengangkat barang yang sangat berat, bahkan dengan bantuan alat pendukung sekalipun. Butuh istirahat secara berkala untuk memulihkan tenaga tersebut, sehingga proses produksi kalau mau berjalan 24 jam sehari membutuhkan tenaga otot yang amat besar dan banyak jumlahnya.

Selain otot, tenaga lain yang digunakan adalah tenaga air dan tenaga angin. Biasanya ini digunakan di industri pertanian. Masalah utama dari dua tenaga ini adalah, Tidak bisa digunakan di mana saja. Hanya di lokasi tertentu.

Penemuan mesin uap yang jauh lebih efisien & murah dibandingkan mesin uap sebelumnya oleh James Watt di tahun 1776 mengubah semua itu.

Kini tak ada lagi batasan waktu untuk menggerakkan mesin. Asal dipasang mesin uap rancangan James Watt ini, sebuah penggilingan bisa didirikan di mana saja, tak perlu dekat air terjun atau daerah berangin. Sebuah kapal jadi bisa berlayar 24 jam, selama mesin uapnya dipasok dengan kayu atau batu bara.

Jadi, karena kini tenaga mesin tidak dibatasi oleh otot, angin, dan air terjun, terjadilah penghematan biaya dalam jumlah luar biasa di bidang produksi, transportasi, bahkan militer. Barang-barang yang diproduksi menjadi jauh lebih banyak, lebih murah, dan lebih mudah didapat. Uang yang semula dipakai untuk memproduksi dan membeli barang-barang mahal tersebut kini bisa dipakai untuk hal lain, sehingga barang-barang yang tak diproduksi menggunakan mesin uap pun menjadi jauh lebih laku.

Revolusi industri ini juga mengubah masyarakat dunia, dari masyarakat agraris di mana mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani, menjadi masyarakat industri.

materi bacaan revolusi industri 4.0
mesin uap Watt, yang menjadi pijakan untuk revolusi industri pertama.

Namun, dampak negatif revolusi industri ini, selain pencemaran lingkungan akibat asap mesin uap dan limbah-limbah pabrik, adalah penjajahan di seluruh dunia. Tanpa mesin uap, Bangsa Eropa takkan dapat menaklukkan Asia dan Afrika secepat dan semudah ini.

Revolusi Industri 2.0

Revolusi industri pertama mengubah banyak hal. Namun, Revolusi industri kedua yang terjadi di awal abad ke-20. Saat itu, produksi memang sudah menggunakan mesin.

Tenaga otot sudah digantikan oleh mesin uap, dan kini tenaga uap mulai digantikan dengan tenaga listrik. Namun, proses produksi di pabrik masih jauh dari proses produksi di pabrik modern dalam satu hal: transportasi. Pengangkutan produk di dalam pabrik masih berat, sehingga macam-macam barang berat, seperti mobil, harus diproduksi dengan cara dirakit di satu tempat yang sama.

Sejarah Perkembangan Revolusi Industri 1.0 hingga 4.0 44
Pabrik mobil Ford model T sebelum revolusi industri 2.0.

Di akhir 1800-an, mobil mulai diproduksi secara massal. Namun, di pabrik mobil, setiap mobil dirakit dari awal hingga akhir di titik yang sama. Semua komponen mobil harus dibawa ke pekerja perakit. Seorang perakit memroses barang tersebut dari nol hingga produk jadi.

Namun, proses produksi ini memiliki kelemahan besar: perakitan dilakukan secara PARALEL. Artinya, untuk merakit banyak mobil, proses perakitan harus dilakukan oleh banyak pekerja secara bersamaan! Artinya setiap pekerja harus diajari banyak hal.

Ketika perusahaan mobil Ford di Amerika Serikat meluncurkan mobil murah pertama di dunia, “Ford Model T” yang tersohor, mereka kebanjiran pesanan. Mereka tak bisa memenuhi target produksi mereka. Butuh waktu sekitar 12 jam 30 menit untuk seorang pekerja dalam merakit mobil di tahun 1912, Ford hanya dapat memproduksi 68.773 mobil dalam setahun. Artinya, sistem “Satu perakit, satu mobil” tak bisa dipertahankan. Sistem produksi harus direvolusi.

Revolusi terjadi dengan menciptakan “Lini Produksi” atau Assembly Line yang menggunakan “Ban Berjalan” atau conveyor belt di tahun 1913. Proses produksi berubah total. Tidak ada lagi Pekerja yang menyelesaikan satu mobil dari awal hingga akhir, para pekerja diorganisir untuk menjadi spesialis,Hanya mengurus satu bagian saja, Misalnya memasang ban.

Produksi Ford Model T dipecah menjadi 45 pos, mobil-mobil tersebut kini dipindahkan ke setiap pos dengan conveyor belt, lalu dirakit secara SERIAL. Semua ini dilakukan dengan bantuan alat-alat yang menggunakan tenaga listrik, yang jauh lebih mudah dan murah daripada tenaga uap.

sejarah revolusi industri 4.0
Proses perakitan mobil Ford model T jauh lebih efisien dengan bantuan conveyor belt.

Penggunaan tenaga listrik, ban berjalan, dan lini produksi ini menurunkan waktu produksi secara drastis, Ford Model T bisa dirakit Hanya dalam 95 menit!

Akibatnya, produksi Ford Model T melonjak, dari 68 ribuan mobil di tahun 1912, menjadi 170 ribuan mobil di tahun 1913, 200 ribuan mobil di tahun 1914, dan tumbuh terus sampai akhirnya menembus 1 juta mobil per ahunnya di tahun 1922.

Produksi mobil murah secara besar-besaran ini mengubah industri mobil di dunia, dan juga budaya di seluruh dunia. Akibatnya Mobil menjadi barang murah dan seluruh lapisan masyarakat dapat memilikinya sehingga menimbulkan banyak dampak positif naupun negatif.

sejarah revolusi industri 4.0
Conveyor Belt hasil dari revolusi Industri 2.0

Revolusi industri kedua ini juga berdampak pada kondisi militer di Perang Dunia 2. Meski bisa dikatakan bahwa revolusi industri 2.0 sudah terjadi di Perang Dunia 1, di Perang Dunia 2-lah efeknya benar-benar terasa.

Ribuan tank, pesawat, dan senjata-senjata tercipta dari pabrik-pabrik yang menggunakan lini produksi dan ban berjalan. Ini semua terjadi karena adanya produksi massal (mass production). Perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri boleh dibilang jadi komplit.

Revolusi Industri 3.0

Setelah mengganti tenaga otot dengan uap, lalu produksi paralel dengan serial, perubahan apa lagi yang bisa terjadi di dunia industri 3.0 ? Setelah revolusi industri kedua, manusia masih berperan amat penting dalam produksi barang-barang, seperti disebutkan sebelumnya.

Setelah revolusi ini, abad industri pelan-pelan berakhir, abad informasi dimulai. Kalau revolusi pertama dipicu oleh mesin uap, revolusi kedua dipicu oleh ban berjalan dan listrik, revolusi ketiga dipicu oleh mesin yang bergerak dan berpikir secara otomatis: komputer dan robot.

Komputer semula adalah barang mewah. Salah satu komputer pertama yang dikembangkan di era Perang Dunia 2 sebagai mesin untuk memecahkan kode buatan Nazi Jerman, yaitu komputer yang bisa diprogram pertama yang bernama Colossus adalah mesin raksasa sebesar sebuah ruang tidur.

Tidak punya RAM, dan tidak bisa menerima perintah dari manusia melalui keyboard, apalagi touchscreen, tapi melalui pita kertas. Komputer purba ini juga membutuhkan listrik luar biasa besar: 8500 watt! Namun kemampuannya masih amat terbatas.

revolusi industri 4.0
Bayangin kalo komputer lo sekarang sebesar ini! Ini adalah foto komputer Colossus, yang menjadi pijakan awal revolusi industri 3.0.

Namun, kemajuan teknologi komputer melesat luar biasa setelah perang dunia kedua selesai. Penemuan semi konduktor, disusul transistor, lalu integrated chip (IC) membuat ukuran komputer semakin kecil, listrik yang dibutuhkan semakin sedikit, dan kemampuannya menjadi lebih baik.

Mengecilnya ukuran komputer menjadi penting, sebab kini komputer dapat dipasang di mesin-mesin yang mengoperasikan lini produksi. komputer menggantikan banyak tenaga manusia sebagai operator dan pengendali lini produksi.

Proses ini disebut “Otomatisasi” semuanya menjadi otomatis, tidak memerlukan manusia lagi. Artinya, terjadi penurunan kebutuhan sumber daya manusia.

Seiring dengan kemajuan komputer, kemajuan mesin-mesin yang dapat dikendalikan dengan komputer juga meningkat. Berbagai mesin diciptakan dengan bentuk dan fungsi yang menyerupai bentuk dan fungsi manusia. Komputer menjadi otaknya, robot menjadi tangannya, perlahan fungsi pekerja manusia mulai di gantikan.

Revolusi ini mengubah masyarakat. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat cenderung berubah dari mengandalkan sektor manufaktur, menjadi mengandalkan sektor jasa seperti bank, studio film, TI, dll. sebagai motor ekonomi mereka. Mereka berubah dari ekonomi industri menjadi ekonomi informasi.

Karena kemajuan ini juga, terjadilah perubahan dari data analog menjadi data digital. Misalnya, dari merekam musik menggunakan kaset menjadi menggunakan CD, dari menonton film di video player menjadi menggunakan DVD player; dst. Ini terjadi karena komputer itu cuma bisa bekerja dengan data digital.

Karena inilah revolusi industri ketiga dinamakan “Digital revolution“. Karena revolusi ini juga, video game menjadi sesuatu yang normal dalam kehidupan kita, menjadi bisnis dengan nilai milyaran, bahkan trilyunan Dolar. Di sisi negatifnya, digitalisasi, komputerisasi membuat kejahatan-kejahatan baru muncul: penipuan menggunakan komputer,

Revolusi Industri 4.0

Konsep “Industri 4.0” pertama kali digunakan di publik dalam pameran industri Hannover Messe di kota Hannover, Jerman di tahun 2011. Dari peristiwa ini juga sebetulnya ide “Industri 2.0” dan “Industri 3.0” baru muncul, sebelumnya dikenal dengan nama “Revolusi Teknologi” dan “Revolusi Digital”.

Di revolusi industri 4.0 muncul istilah internet. Semua komputer tersambung ke sebuah jaringan bersama. Komputer juga semakin kecil sehingga bisa kita bawa kemanapun tanpa ada kendala.

Manusia dapat terhubung ke jaringan internet secara terus menerus. Bagian pertama dari revolusi industri keempat adalah “Internet of Things” saat komputer-komputer yang ada di pabrik itu tersambung ke internet, Setiap masalah yang ada di lini produksi bisa langsung diketahui saat itu juga oleh pemilik pabrik, di manapun si pemilik berada!

Sejarah Perkembangan Revolusi Industri 1.0 hingga 4.0 45
Ponsel pintar (smartphones) yang senantiasa membuat kita terhubung dengan dunia luar adalah instrumen penting dalam revolusi industri 4.0.

kemajuan teknologi juga menciptakan 1001 sensor baru, dan 1001 cara untuk memanfaatkan informasi yang didapat dari sensor-sensor tersebut yang merekam segalanya selama 24 jam sehari.  Informasi ini bahkan menyangkut kinerja pegawai manusianya. Misalnya, kini perusahaan bisa melacak gerakan semua dan setiap pegawainya selama berada di dalam pabrik.

finger print - bagian dari revolusi industri 4.0
finger print – bagian dari revolusi industri 4.0

Kedua, Dari pergerakan tersebut, bisa terlihat, Jika pegawai menghabiskan waktu terlalu banyak di satu bagian, maka bagian tersebut perlu diperbaiki. Terdapat banyak informasi lainnya yang bisa didapat data yang berbeda, sehingga masih dapat meningkatkan produktivitas pabrik yang semula tak terpikirkan. Karena begitu banyaknya ragam maupun jumlah data baru ini, aspek ini sering disebut Big Data.

Ketiga, berhubungan dengan sebelumnya, adalah Cloud Computing. Perhitungan-perhitungan rumit memerlukan komputer canggih yang besar, karena sudah terhubung dengan internet, karena ada banyak data yang bisa dikirim melalui internet, semua perhitungan tersebut bisa dilakukan di tempat lain, bukan hanya di pabrik.

Jadi, sebuah perusahaan yang punya 5 pabrik di 5 negara berbeda tinggal membeli sebuah superkomputer untuk mengolah data yang diperlukan secara bersamaan untuk kelima pabriknya. Tidak perlu lagi membeli 5 superkomputer untuk melakukannya secara terpisah.

Keempat, yang paling besar: Machine learning, yaitu mesin yang memiliki kemampuan untuk belajar, yang bisa sadar bahwa dirinya melakukan kesalahan sehingga melakukan koreksi yang tepat untuk memperbaiki hasil berikutnya.

Sebelum Machine Learning, sebuah komputer melakukan tugasnya dengan “Diperintahkan” atau “Diinstruksikan” oleh manusia. Tetapi machine Learning dapat melakukan tugasnya sendiri tanpa bantuan Manusia.

Dengan kombinasi keempat hal tersebuh diharapkan kedepannya Machine Learning mampu untuk melakukan perhitungan yang rumit dan hal apapun tanpa bantuan pengoperasian dari manusia. Kenyataannya tentu saja saat ini belum sebaik itu.Saat ini AI dan Machine Learning, masih amat terbatas untuk tugas-tugas tertentu.

Indonesia dan negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat masih terus memperdebatkan konsekuensi dari revolusi industri keempat ini, sebab revolusi ini sedang berlangsung.

Masih terdapat banyak kendala, misalnya koneksi internet yang belum universal dan masih adanya beberapa daerah yang tidak memiliki koneksi internet, bahkan di Amerika Serikat yang terkenal sebagai negara adidaya sekalipun.

Selain itu, Kemunculan internet berarti munculnya celah keamanan baru. Perusahaan saingan pasti berusaha mengintip kinerja dan rancangan produksi lewat celah keamanan komputer pengendali produksi yang kini bisa diakses dari internet.

artificial intelligence sebagai bagian dari revolusi industri
Artificial Intelligence sebagai bagian dari revolusi industri

Kita saat ini sedang dalam masa bersejarah, masa saat revolusi industri keempat sedang dibicarakan, dipersiapkan, diperdebatkan, dan dimulai. Melihat pola sejarah, akan terjadi perubahan besar di dunia ini.

Jutaan pekerjaan di sektor tertentu, yang semula diandalkan akan menghilang. Jutaan pekerjaan baru yang tak terpikirkan oleh kita akan bermunculan. Revolusi industri keempat ini akan menggilas banyak orang, Maka dari itu kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0 ini.

Referensi: www.zenius.net, The Guardian: AlphaZero AI Beats Champion Chess Program After Teaching Itself in Four Hours, “When Was the First Computer Invented”, Wikipedia: Assembly Line, Wikipedia: Colossus Computer, Wikipedia: Ford Model T, Wikipedia: Fourth Industrial Revolution

Sumber Peta & Foto: Wikipedia, mybalangan.com

No votes yet.
Please wait...
Rating

One Reply to “Sejarah Perkembangan Revolusi Industri 1.0 hingga 4.0”

  1. Oh jadi tenyata seperti itu revolusi industri dari awal

    Rating
    No votes yet.
    Please wait...

Tinggalkan Balasan